Penatalaksanaan Medis dan Non-medis Stenosis Mitral


Penatalaksanaan Medis dan Non-medis Stenosis Mitral

Oleh Zarmayana Nur Khairunni, 1306464732

Stenosis mitral merupakan kondisi atau penyakit dimana katup mitral tidak mampu terbuka sepenuhnya. Hal ini menyebabkan hambatan bagi jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh diakibatkan oleh meningkatknya kerja yang dibutuhkan untuk memompa darah melalui stenosis mital. Stenosis mitral menurunkan jumlah darah yang dapat mengalir dari atrium kiri ke ventrikel kiri selama diastol. Pada kondisi ini, ketika detak jantung meningkat, diastole menjadi singkat sehingga jumlah darah yang keluar sedikit. Peningkatan detak jantung berpotensi menurunkan curah jantung dan peningkatan tekanan pulmoner sehingga memungkinkan terjadinya darah dari atrium kiri kembali ke pembuluh paru (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010)

Penatalaksanaan medis stenosis mitral ditujukan untuk menghilangkan atau menurunkan kemungkinan penurunan curah jantung dan terjadinya kongesti paru (Porth & Matfin, 2009). Klien dengan riwayat demam reumatik, dapat diberikan profilaksis antibiotik terhadap bakteri yang menyebabkan demam reumatik (streptococcus grup A betahemolitik). Secara primer, pencegahan faringitis streptokokus grup A rekuren adalah metode paling efektif untuk mencegah penyakit jantung reumatik berat (pencegahan sebelum reumatik berkembang/berulang) (Northwestern Medicine, 2015). Namun, Demam reumatik dapat berulang bahkan ketika infeksi simptomatik diobati secara optimal. Oleh karena itu, pencegahan demam reumatik membutuhkan profilaksis antibiotik jangka panjang. Profilaksis antibiotik jangka panjang adalah metode paling efektif mencegah rekurensi demam reumatik. Profilaksis jangka panjang direkomendasikan pada pasien dengan riwayat demam reumatik dan pada pasien yang telah didiagnosis penyakit jantung reumatik (Almazini, 2014).

Profilaksis sebaiknya dimulai segera setelah demam reumatik akut atau penyakit jantung reumatik didiagnosis. Untuk memusnahkan residual streptokokus grup A, penisilin sebaiknya diberikan pada pasien demam reumatik akut, bahkan jika hasil kultur tenggorokan negatif (Almazini, 2014). Terdapat lima hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lama profilaksis adalah (1) riwayat rekurensi sebelumnya, (2) risiko pajanan terhadap infeksi streptokokus grup A, (3) saat serangan terakhir, (4) umur pasien, dan (5) keterlibatan jantung. Demam reumatik dengan karditis dan penyakit jantung residual (penyakit katup persisten menggunakan profilaksis selama 10-40 tahun. Pada saat itu, ditentukan tingkat keparahan penyakit katup dan potensial pajanan terhadap streptokokus grup A, dan profilaksis (bisa sampai seumur hidup) sebaiknya dilanjutkan pada pasien risiko tinggi (Almazini, 2014).

2

Selain pemberian profilaksis, jika pasien dalam keadaan fibrilasi atrium, klien dapat diberikan terapi antikoagulasi dengan tujuan untuk mengendalikan laju ventrikel dan mencegah emboli sistemik (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010). Selain itu, terapi antikoagulasi ini juga digunakan untuk mengurangi risiko perkembangan trombus atrium (Porth & Matfin, 2009). Antikoagulan ini penting  diberikan untuk mencegah stroke akibat embolus yang timbul dari atrium fibrillating.  Fibrilasi atrium juga dapat dikontrol dengan Calsium Channel Blocker dan Beta-Blocker.  Denyut ventrikel dapat diperlembat dengan pemberian beta-blocker IV atau Calsium channel blocker (dilitiazem atau verapamil). Denyut atau ritma jantung dapat dikontrol dengan beta-blocker oral, Calsium Channel Blocker, amiodarone, atau digoxin (Dima, 2014). Kontraindikasi pemberian beta-blocker dan CCB ini ialah irama sinus normal.

Penggunaan beta-blocker pada pasien dengan irama sinus normal dapat memperpanjang waktu pengisian diastolik sehingga mengurangi tekanan atrium kiri. Secara umum, penurunan afterload harus dihindari karena dapat menyebabkan hipotensi (Dima, 2014). Selain itu, klien dengan stenosis mitral memiliki kemungkinan untuk menderita anemia sehingga dibutuhkan pengobatan untuk anemianya. Namun, perlu diperhatikan bahwa manajemen untuk menghindari anemia dan fibrilasi atrium dapat memicu dekompensasi dan gagal jantung (Aaronson, Ward, & Connolly, 2013). Perlu diperhatikan bahwa klien dengan stenosis mital harus menghindari aktivitas yang berat dan olahraga yang kompetitif untuk menghindari peningkatan denyut jantung (Smeltzer, Bare, Hinkle, & Cheever, 2010). Namun, apabila terjadi embolisasi berulang pada klien, maka perlu dilakukan tindakan bedah meskipun terapi antikoagulasi memadai (Dima, 2014). Intervensi bedah termasuk balon valvotomi, commissurotomy, dan perbaikan atau penggantian katup dapat digunakan untuk mengatasi penyakit katup mitral degeneratif dan fungsional (Porth & Matfin, 2009).

Balon valvotomi atau Percutaenus Balloon Mitral Valvotomy 1(PBMV) merupakan suatu tindakan minimal invasif untuk memperlebar katup mitral jantung yang menyempit (Heart Consult, 2010). Tindakan ini menggunakan balon yang dimasukkan melalui kateter, yaitu selang yang ditusukkan pada daerah lipat paha hingga sampai ke jantung. Indikasi untuk dilakukan PBMV adalah sebagai berikut: (1) Pasien memperlihatkan gejala-gejala mitral stenosis, (2) Terdapat akumulasi cairan di paru-paru (Pulmonary oedema), dan (3) Pumlonary hypertension disertai disfungsi ventrikel sinistra. Sedangkan kontraindikasinya adalah thrombus atau jendalan darah pada ventrikel sinistra, regurgitasi mitral (aliran darah balik dari atrium sinistra ke ventrikel sinistra) yang cukup parah atau deformitas pada valva tricuspidalis. Pada kondisi tersebut, tindakan PBMV tidak disarankan (Heart Consult, 2010).

Mitral Valve Commisurrotomy merupakan prosedur yang dilakukan untuk membuka komisura yang menyatu pada katup mitral. Mitral valve commissurotomy dapat dilakukan perkutan dengan kateter balon atau pembedahan melalui torakotomi kiri (Porth & Matfin, 2009). Prosedur ini dilakukan bagi klien yang memiliki penyempitan katup yang parah namun tidak terindikasi dengan baik untuk dilakukan balon valvotomi (Healthwise Staff, 2011). Prosedur MVP dilakukan dengan membuka komisura yang menyatu dengan jaringan parut, mengurangi gradien dan meningkatkan daerah katup.

Mitral valve replacement (MVR) merupakan prosedur bedah jantung yang dilakukan untuk mengganti katup mitral pasien yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi dengan katup jantung buatan (baik itu mekanik m1aupun bioprostetik). Pasien dengan pasca mitral valve repair tidak memerlukan obat pengencer darah dan pasien dapat hidup seperti pada populasi normal lainnya, sedangkan pada pasien dengan replacement/penggantian katup harus minum obat pengencer darah selama 3 bulan (bioprostetik) atau seumur hidup (mekanik). Ada dua kelompok besar katup mitral buatan: katup mekanik dan katup biologis (Reza & Hanafy, 2012). Katup mekanik dibuat dari logam dan pyrolytic carbon, yang dapatbertahan selama seumur hidup. Pasien dengan katup mekanik harus minum obat pengencer darah selama seumur hidup untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. Sedangkan katup bioprostetik adalah katup buatan yang dibuat dari jaringan hewan. Pasien dengan katup jenis ini tidak perlu minum obat pengencer darah seumur hidupnya. Namun katup ini hanya bertahan antara 10-15 tahun dan perlu diganti kembali dengan proses operasi lagi (Cooper, 2013). Pemilihan jenis katup yang akan digunakan tergantung dari usia pasien, kondisi medis pasien, tempat tinggal pasien, dan kepatuhanpasien terhadap pengobatan (Sundt, 2014).

 Referensi

Aaronson, P., Ward, J., & Connolly, M. (2013). The Cardiovaskular System at a glance (4th ed.). London: John Wiley & Sons, Ltd.

Almazini, P. (2014). Antibiotik untuk Pencegahan Demam Reumatik Akut dan Penyakit Jantung Reumatik. IAI Continuing Profesional Development, 41(7), 497-501. Retrieved April 17, 2015, from http://www.kalbemed.com/Portals/6/07_218CPD_Antibiotik%20untukPencegahan%20Demam%20Reumatik%20Akutdan%20Penyakit%20Jantung%20Reumatik.pdf

Cooper, M. (2013). Mitral valve surgery – minimally invasive. Retrieved April 18, 2015, from Medline Plus: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/007411.htm

Dima, C. (2014). Mitral Stenosis Treatment & Management. (L. Prisant, Editor) Retrieved April 17, 2015, from Medscape: http://emedicine.medscape.com/article/155724-treatment

Healthwise Staff. (2011). Mitral Valve Repair Surgery (Commissurotomy) for Mitral Valve Stenosis. Retrieved April 18, 2015, from Healthwise: https://www.cardiosmart.org/healthwise/abn0/755/abn0755

Heart Consult. (2010). Mitral Valvuloplasty. Retrieved April 18, 2015, from Heart Consult: http://www.heart-consult.com/articles/mitral-valvuloplasty

Northwestern Medicine. (2015). Mitral Valve Regurgitation, Stenosis, and Prolapse. Retrieved April 17, 2015, from Northwestern Medicine: http://heartvalvedisease.nm.org/mitral-valve-regurgitation-stenosis-and-prolapse.html

Porth, C. M., & Matfin, G. (2009). Pathophysiology Concepts of Altered Health States (8th Edition ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Reza, G., & Hanafy, D. (2012). Mital Valve Replacement (VMR). Retrieved April 18, 2015, from Bedah Jantung: http://www.bedahjantung.org/2012/12/mitral-valve-replacement-mvr.html

Smeltzer, S. C., Bare, B., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010). Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing (12nd Edition ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Sundt, T. (2014). Mitral Valve Replacement. Retrieved April 18, 2015, from The Society of Thoracic Surgeon: http://www.sts.org/patient-information/valve-repair/replacement-surgery/mitral-valve-replacement

Sumber Gambar

http://www.cts.usc.edu/graphics/valves-mechanical-biological.gif

http://www.heart-consult.com/articles/mitral-valvuloplasty

http://emedicine.medscape.com/article/155724-treatment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s