Gangguan Eliminasi Urin pada Klien dengan Gagal Jantung


Gangguan Eliminasi Urin pada Klien dengan Gagal Jantung

Oleh Zarmayana Nur Khairunni, 1306464732

Outline:

  1. Patofisiologi Gagal Jantung terkait Eliminasi Urin
  2. Pengkajian dan Uji Diagnostik
  3. Penatalaksanaan Gangguan Eliminasi Urin pada Klien Gagal Jantung
  4. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

Mekanisme (patofisiologi) gangguan eliminasi urin pada pasien gagal jantung dapat dikaitkan dengan komplikasi dari gagal jantung tersebut terhadap sistem eliminasi urin. Secara garis besar, penyakit gagal jantung  menyebabkan tiga hal yang berhubungan dengan gangguan eliminasi urin, yaitu penurunan curah jantung, tekanan darah sistemik, dan aliran darah ke ginjal (Brashers, 2010). Penurunan curah jantung dan tekanan darah sistemik menyebabkan aktivasi baroreseptor sehingga pusat regulasi vasomotor di medulla terangsang dan menyebabkan kenaikan aktivaitas sistem saraf simpatik (Brashers, 2010).

Kenaikan aktivitas sistem saraf simpatik menyebabkan sekresi epinerfrin dan norepinefrin secara besar-besaran (Williams & Hopper, 2007). Kemudian, norepinefrin menstimulasi reseptor alfa1-adrenergik yang menyebabkan kontriksi pembuluh sehingga menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun (Silbernagl & Lang, 2000). Selain itu, kenaikan aktivitas sistem saraf simpatik ini juga memicu sekresi renin oleh ginjal (Silbernagl & Lang, 2000). Renin juga dipicu oleh penurunan aliran darah ke ginjal. Selanjutnya, renin menyebabkan aktivasi RAAS (Renin-Angiotensin-Aldosterone system) yang menyebabkan vasokontriksi pembuluh, sekresi aldosteron, sekresi ADH (Williams & Hopper, 2007), dan kenaikan fraksi filtrasi.

Kenaikan fraksi filtrasi menyebabkan tekanan osmotik glomerulus meningkat sehingga laju filtrasi glomerulus menurun. Penurunan laju filtrasi glomerulus ini dapat menyebabkan oliguria (Porth & Matfin, 2009) dan anuria. Kemudian, sekresi aldosteron menyebabkan retensi garam dan air, peningkatan reabsorbsi garam dan air, serta penurunan eksresi garam (Brashers, 2010). Retensi garam dan air akan menyebabkan kenaikan tekanan kapiler pulmonar dan vena, sehingga dapat menyebabkan penimbunan cairan dalam ruang intersitial (Silbernagl & Lang, 2000).

Penimbunan ini dapat menyebabkan edema perifer. Pada siang hari, edema perifer menunjukkan penumpukan pada eksstremitas terutama tungkai akibat gravitasi (Silbernagl & Lang, 2000). Sehingga pada malam hari, ketika tubuh terbaring, cairan dibawah kaki kembali ke sistem peredaran darah. Hal ini menyebabkan aliran darah ke ginjal dan filtrasi meningkat sehingga dapat terjadi nokturia diuresis hingga 6x (Williams & Hopper, 2007) (Silbernagl & Lang, 2000). Selanjutnya, peningkatan reabsorbsi garam dan air dan sekresi ADH dapat menyebabkan pengeluaran urine menjadi sedikit atau oliguria (Williams & Hopper, 2007).

Untuk mengetahui tentang tingkat keparahan gangguan eliminasi pada klien dengan gangguan ginjal, maka perawat juga perlu mengetahui pengkajian dan nilai laboratorium pada gangguan terkait. Pasa proses pengkajian, yang perawat akan kaji ialah riwayat keperawatan, status hidrasi, dan pemeriksaan urine serta menghubungkan data yang didapat dengan hasil pemeriksaan dan prosedur diagnostik (Kozier, Erb, Berwan, & Burke, 2007). Pada wawancara pengkajia, perawat dapat menanyakan tentang pola berkemih seperti berapa kali pasien berkemih dalam satu hari, perubahan pola dalam beberapa waktu terakhir, dan tingkat bangun pada malam hari untuk berkemih. Selanjutnya, dapat juga dikaji tentang masalah eliminasi urin sperti jumlah urine yang dikeluarkan dan tingkat keseringan berkemih.

Selain itu, perawat juga mengkaji hal-hal lain seperti obat-obatan yang dikonsumsi klien, asupan cairan, faktor lingkungan, dan kondisi penyakit yang dialami. Selanjutnya pada pengkajian fisik, pada umumnya klien gagal jantung akan mengalami edema. Apabila perawat menemukan edema, maka hal tersebut perlu diwaspadai. Selain itu, pada pengkajian urine, perawat mengkaji tentang haluaran urine klien. Seseorang yang mengalami gagal jantung, mengalami oliguria atau memiliki haluaran urine kurang dari 500mL per hari (Kozier, Erb, Berwan, & Burke, 2007). Selain itu, terkadang ditemukan proteinuria atau hematuria di dalam urine klien apabila gagal jantung yang dialami sudah berat. Selanjutnya, dapat dilakukan uji bersihan kreatinin. Uji bersihan kreatinin menggunakan urine 24 jam dan kadar kreatinin serum untuk menentukan laju filtrasi glomerulus, sebuah indikator fungsi ginjal yang sensitive. Peningkatan kreatinin (>0,6 – 1,3 mg/dl pada pria; Wanita 0,5 – 0,9 mg/dl) dalam darah menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal dan penyusutan massa otot rangka.

Sebagai seorang perawat professional, perawat juga mempelajari dan menguasai tentang penatalaksaan medis serta implikasi keperawatannya. Penatalaksanaan medis gangguan eliminasi pada klien dengan gangguan gagal jantung terdapat dua sisi, yaitu non farmakologi dan farmakologi. Secara non farmakologi, dapat dilakukan pembatasan asupan cairan dan natrium dan manajemen berat badan (Porth & Matfin, 2009); Hal ini dikarenakan tingkat asupan cairan dan sosium mempengarungi tingkat keparahan gagal jantung dan output urine itu sendiri. Sedangkan secara farmakologi (Williams & Hopper, 2007) (Porth & Matfin, 2009), hal yang dapat dilakukan ialah dengan memberikan obat berikut.

  1. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI)
    1. Cara kerja: Menghambat pembentukan Angiotensin II sehingga menurukan retensi garam dan air.
    2. Nama obat: Captopril (Capoten), Enalapril (Vasotec), Fosinopril (Monopril), Lisinopril (Prinivil, Zestril), Moexipril (Univasc), Perindopril (Aceon), Quinapril (Accupril), Ramipril (Altace), Trandolapril (Mavik)
    3. Efek samping: Batuk, hipotensi, ruam, proteinuria, hiperkalemia, angioedema (dyspnea, wajah bengkak), neutropenia (dengan kaptopril).
    4. Implikasi keperawatan:
      1. Periksa tekanan darah sebelum memberikan obat.
      2. Pantau WBC dengan kaptopril.
      3. Ambil kaptopril dan moexipril pada saat perut kosong (1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan).
      4. Ajarkan pasien untuk melaporkan perkembangan batuk, sehingga obat dapat diubah jika ada perubahan.
      5. Ajarkan pasien untuk memeriksa tekanan darah setiap minggunya dan melaporkan perubahan ke dokter.
      6. Ajarkan pasien untuk melaporkan jika terjadi ruam, sakit tenggorokan / mulut, demam, pembengkakan tangan / kaki / wajah / lidah, kesulitan bernapas / menelan, nyeri dada atau detak jantung tidak teratur.
  1. Diuretik
    1. Cara kerja: Menaikkan kecepatan pembentukan urin dan menaikkan eksresi natrium dan air serta menghancurkan garam yang tersimpan di dalam tubuh.
    2. Nama obat: Bumetanide, Furosemide, Torsemide
    3. Efek samping: Hipokalemia, hipokloremia, hypomagnesemia, hiponatremia, dehidrasi, hipotensi
    4. Implikasi keperawatan:
      1. Jangan memberikan loop atau diuretik thiazide pada pasien sulfa-alergi.
      2. Mengambil tekanan darah dan denyut nadi sebelum memberikan obat.
      3. Pantau kadar elektrolit (khususnya tingkat kalium dan bagi mereka pada digitalis), dan status cairan (bobot harian, asupan, output, haus, mulut kering, lemah, oliguria) seluruh terapi.
      4. Mengelola gaya hidup pasien (biasanya dalam AM) untuk menghindari nokturia.
  1. Angiotensin II Receptor Inhibitor
    1. Cara kerja: Memblok aksi angiotensin II
    2. Nama obat: Kaptopril, Enalapril, Lisinopril, Benazepril, Fosinopril, Moexipril, Quianapril
    3. Efek samping: Sakit kepala, pusing, angioedema (dyspnea, pembengkakan wajah)
    4. Implikasi Keperawatan:
      1. Mengambil tekanan darah dan denyut nadi sebelum memberikan obat.
      2. Ajarkan untuk mengubah posisi secara perlahan untuk mengurangi hipotensi ortostatik.
      3. Ajarkan untuk melaporkan apabila terjadi ruam, sakit tenggorokan / mulut, demam, pembengkakan tangan / kaki / wajah / lidah, kesulitan bernapas / menelan, nyeri dada atau detak jantung tidak teratur.
  1. Penyekat reseptor beta adrenergic
    1. Cara kerja: Menurunkan angiotensin II sehingga menghambat sekresi rennin dari sel jukstaglomerular ginjal
    2. Nama obat: Propanolol, Metoprolol, Atenolol, Concept: Betaxolol, Bisoprolol, Pindolol, Acebutolol, Penbutolol
    3. Efek samping: Pusing, hipotensi, hiperglikemia, retensi cairan, diare, bradikardia, impotensi, bronkospasme (carvedilol)
    4. Implikasi keperawatan:
      1. Hindari karvedilol pada pasien dengan asma (menyebabkan bronkospasme).
      2. Periksa denyut jantung dan tekanan darah apikal. Jika denyut jantung di bawah 50 atau tekanan darah sistolik di bawah 100, hubungi dokter sebelum memberikan obat.
      3. Ajarkan untuk mengecek denyut nadi harian dan tekanan darah dua kali seminggu dan menghubungi dokter sebelum mengkonsumsi obat jika denyut nadi di bawah 60.
      4. Ajarkan untuk mengubah posisi secara perlahan untuk mengurangi hipotensi ortostatik.

Selain mengetahui tentang penatalaksanaan medis, perawat tentu juga mengetahui tentang diagnosa keperawatan terkait. Terdapat beberapa diagnosa keperawatan yang berkaitan dengan gangguan eliminasi pada pasien gagal jantung. Diantaranya ialah gangguan pola tidur dan kelebihan volume cairan. Berikut diagnosa keperawatan dan intervensinya secara lebih rinci.

  • Pola tidur yang terganggu terkait dengan nokturia dan ketidakmampuan untuk berbaring dan tidur dengan nyaman (Williams & Hopper, 2007)

Intervensi:

  1. Mengidentifikasi hambatan untuk tidur.
  2. Membantu pasien dalam mengidentifikasi posisi kenyamanan untuk tidur.
  3. Ajarkan penyebab pasien dyspnea di malam hari.
  4. Dorong pasien untuk berbaring selama 30 sampai 60 menit sebelum tidur.
  • Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gagal jantung dan penurunan sekunder dalam aliran darah ginjal untuk filtrasi(Williams & Hopper, 2007).

Intervensi:

  1. Memantau edema, berat badan, jugularis vena distensi (JVD), paru-paru ronki.
  2. Mengurangi asupan natrium seperti yang diperintahkan dokter.
  3. Berikan diuretik atau inotropik yang sesuai.
  4. Pantau asupan dan keluaran.

Referensi

Brashers, V. (2010). Alterations of cardiovascular function. In K. L. McCance, & S. E. Huether, Pathophysiology: The Biologic Basis for Disease in Adults and Children. St. Louis: Mosby.

Kozier, B., Erb, G., Berwan, A., & Burke, K. (2007). Fundamentals of Nursing: Concepts. Process, and Practice. (8th Edition ed., Vol. 2). New Jersey: Prentice Hall Health.

Porth, C. M., & Matfin, G. (2009). Pathophysiology Concepts of Altered Health States (8th Edition ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Silbernagl, S., & Lang, F. (2000). Color Atlas Of Pathophysiology. Newyork: Thieme.

Williams, L. S., & Hopper, P. D. (2007). Understanding Medical Surgical Nursing (3rd Edition ed.). Philadelphia: F. A. Davis Company.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s