Identifikasi Gangguan Kesehatan yang Timbul Sebagai Akibat Budaya


Identifikasi Gangguan Kesehatan yang Timbul Sebagai Akibat Budaya
Zarmayana Nur Khairunni – 1306464732 – KDK I (B)

Budaya merupakan Produk dari manusia sebagai masyarakat sosial, sehingga menyebabkan budaya dan masyarakat tak dapat dipisahkan. Salah satu wujud kebudayaan yang erat kaitannya dengan perilaku sehat dan sakit ialah tingkah laku. Tingkah laku tiap kelompok masyarakat budaya berbeda-beda. Beberapa dari tingkah laku tersebut ada yang tidak bertentangan dengan kesehatan, menguntungkan untuk kesehatan, hingga membahayakan kesehatan klien. Hubungan budaya dan kesehatan ini penting dibahas kareana mempengaruhi intervensi keperawatan yang akan diberikan. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas identifikasi gangguan kesehatan yang timbul sebagai akibat tingkah laku budaya yang ditinjau dari faktor-faktor budaya dan perilaku sakit dan fenomena budaya dan kesehatan.

Kesehatan, penyakit, dan caring dari tiap budaya memiliki ciri khas sendiri (Kleinmen, 1979; Leinenger, 2001 dalam Potter & Perry, 2009). Sebagai seorang perawat yang kompeten, perawat tidak boleh menyamakan ambang rasa nyeri/sakit pada setiap klien atau faktor-faktor budaya dan sakit lainnya. Hal tersebut sebagai akibat budaya yang dapat mempengaruhi pengungkapan rasa sakit dan kebutuhan akan obat penghilang rasa sakit. Klien mengalami sakit budaya ketika praktisi/penyembuh kesehatan tidak menghargai atau bahkan mengabaikan tata cara kehidupan mereka. Terdapat beberapa faktor budaya dan sakit, diantaranya adalah penyebab penyakit, metode diagnosis, pengobatan, praktisi/penyembuh, dan pola pelayanan. Sebagai contoh, masyarakat Jawa cenderung terserang obesitas sebagai akibat perilaku hidup budaya mereka yaitu suka memakan makanan yang manis-manis.

Budaya seperti suka memakan makanan yang manis pada masyarakat Jawa tersebut merupakan salah satu fenomena budaya dan kesehatan yang dapat mengancam kesehatan pasien. Identifikasi gangguan kesehatan akibat budaya juga dapat ditinjau dari faktor lain selain faktor kebiasaan makanan, yaitu makanan yang dipantang dalam kondisi sakit dan persepsi sakit yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri (Afifah, 2013).

Keperawatan transkultural akan menghasilkan keperawatan yang fokus kepada klien yang memiliki gangguan kebutuhan dasar akibat tingkah laku dalam budayanya tanpa mengabaikan kebudayaan itu sendiri. Keperawatan transkultural memberi intervensi untuk meningkatkan kesehatan dan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya klien. Suatu pengidentifikasian gangguan kesehatan akibat perilaku budaya dapat menjembatani perbedaan pengetahuan yang dimiliki klien dan pasien sehingga membuat intervensi keperawatan berfungsi lebih efektif.

Referensi

Afifah, E. (2013). Ringkasan materi unit 2 keragaman budaya dan perspektif transkultural dalam keperawatan. staff.ui.ac.id/system/files/users/afifah/material/transkulturalnursing. (7 Desember 2013)

Potter, P.A. & Perry, AG. (2009). Fundamental of nursing. Jakarta: Salemba Medika.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s