Terima saja


Dia cerdas, ‘terlihat’ bahagia, tapi aku yakin dia tidak bahagia, karena aku tidak bahagia−karena dia tidak menerimaku. Aku sudah menerima kenyataan ini, mengapa dia belum, kami ‘sebaya’, kami ‘setumpu’, kami ‘sama’ namun tidak identik. Kamu, Aku, kita sama. Jangan pungkiri lagi, sudah belasan tahun berlalu, mengapa kau masih tidak bisa terima? Jangan menolak, ini bukan kutukan atau aib, ini berkah. Terimalah. Kebahagiaanmu akan sempurna, karena ikhlas akan takdir dan kehidupan awal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s